Menu Close

Waspada Fobia Petir Astrafobia

Waspada Fobia Petir

Waspada Fobia Petir Saat dengar mengenai perkiraan cuaca hujan petir, orang biasanya akan tunda gagasan melancong atau mengalihkan acara ke dalam ruang. Atau, saat lagi ada di luar, Anda akan pilih berlindung di pelataran toko atau halte bis.

Anda benar-benar berlindung dari petir, tetapi reaksinya tidak terlalu berlebih. Ini berbeda jauh dengan pengidap astrafobia. Tanggapan mereka pada petir dan kilat melebihi perlakuan normal biasanya. Waspada Fobia Petir

“Astrafobia itu ketakutan berlebihan pada beberapa hal yang terkait dengan petir dan kilat. Jadi, ini terhitung suaranya atau sinar kilatannya,” terang psikiater Ikhsan Bella Persada, M.Psi. Waspada Fobia Petir

“Orang yang punyai fobia petir kemungkinan pahami jika hati dan perbuatannya ini terlalu berlebih dan tidak logis, tetapi ia tidak punyai daya untuk kuranginya,” ikat Ikhsan.

Menurut Ikhsan, pemicu fobia ini sejumlah besar ialah pengalaman traumatik. Pengidap astrafobia punyai hati cemas, sebelum dan sepanjang petir berlangsung.

Menurut psikiater Ikhsan, seluruh orang sama beresiko terserang astrafobia. “Namun, pribadi yang punyai sensori pendengaran yang lebih peka dapat bertambah lebih takut saat ada suara petir,” bebernya.
Beberapa orang yang punyai pendengaran lebih peka, seperti anak autisme, mempunyai sensori yang condong lebih peka.
Kecuali anak autisme, orang yang mempunyai kisah kekhawatiran, stres, atau fobia dalam keluarga beresiko semakin besar terserang fobia petir.
Punyai kisah trauma berkaitan cuaca dapat jadi factor resiko. Misalkan, Anda pernah terjerat pada kondisi badai dan petir atau cuaca jelek yang lain.
Jika sampai alami astrafobia, Anda perlu pengatasan yang pas. Karena, jika keadaan itu didiamkan demikian saja, malah bisa menjadi permasalahan serius.
“Pengatasan astrafobia sama dengan fobia yang lain. Yakni, perlu kontribusi profesional dan suport dari keluarga,” anjuran psikiater Ikhsan.
Jika ketakutan itu sangat mengusik atau mungkin tidak dapat dikontrol, benar-benar disarankan untuk konsultasi dengan profesional supaya mendapatkan pengatasan psikis yang pas.
Interferensi psikologi yang umumnya diberi untuk pengatasan fobia, ada therapy kognitif sikap (CBT), exposure terapi, dan ditolong dengan bermacam tehnik stabilisasi emosi.
“Misalkan, therapy CBT untuk menangani sudut pandang negatifnya dan therapy exposure dengan dekatkan secara perlahan-lahan pasien ke sumber rasa ngerinya,” papar Ikhsan.
Pemberian tipe therapy akan disamakan dengan keperluan dan keadaan pasien.
Pada pasien yang memerlukan kontribusi medikasi untuk memberikan dukungan pengatasan psikis, psikiater umumnya akan mengarah ke psikolog atau dokter.
error: Content is protected !!